Kasus Seorang Gadis dan Ibu Hamil di Commuter Line

Kasus Seorang Gadis dan Ibu Hamil di Commuter Line

Kasus Seorang Gadis dan Ibu Hamil di Commuter Line

Kasus Seorang Gadis dan Ibu Hamil di Commuter Line

Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut sebagian besar teori, keadilan memiliki tingkat kepentingan yang besar. Jhon Rawls, filsuf Amerika Serikat yang dianggap salah satu filsuf politik terkemuka abad ke-20, menyatakan bahwa “Keadilan adalah kelebihan (virtue) pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran”. Tapi, menurut kebanyakan teori juga, keadilan belum lagi tercapai: “Kita tidak hidup di dunia yang adil”. Kebanyakan orang percaya bahwa ketidakadilan harus dilawan dan dihukum, dan banyak gerakan sosial dan politis di seluruh dunia yang berjuang menegakkan keadilan. Tapi, banyaknya jumlah dan variasi teori keadilan memberikan pemikiran bahwa tidak jelas apa yang dituntut dari keadilan dan realita ketidakadilan, karena definisi apakah keadilan itu sendiri tidak jelas. keadilan intinya adalah meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya.

Merdeka.com – Sejak pagi jejaring sosial heboh, ada remaja perempuan mencurahkan kebenciannya kepada wanita hamil yang meminta duduk saat naik kereta api dalam media sosial Path. Wanita tersebut keberatan memberikan duduk karena dirinya sudah berangkat pagi demi mendapatkan kursi tersebut.

“Benci sama ibu-ibu hamil yang tiba-tiba minta duduk. Ya gue tahu lw hamil tapi plis dong berangkat pagi. Ke stasiun yang jauh sekalian biar dapat duduk, gue aja enggak hamil bela-belain berangkat pagi demi dapat tempat duduk. Dasar emang enggak mau susah.. ckckck.. nyusahin orang. kalau enggak mau susah enggak usah kerja bu di rumah saja. mentang-mentang hamil maunya dingertiin terus. Tapi sendirinya enggak mau usaha.. cape dehh,” tulis wanita itu yang bertagar #notetomyselfjgnnyusahinorg!!

Ketika status keluhan wanita itu dicapture, sudah ada enam komentar dan satu akun Path yang memberikan emoticon sedih serta dilihat oleh 29 temannya. Di gambar tersebut, dua temannya berkomentar mendukung si pembuat status.

“Iya ka, aku sering kaya gitu waktu kerja di Kota. Bodo deh mau dicerewetin ibu-ibu lain. Emang dia doang yang mau dingertiin. Grrrgh,” tulus akun Path bernama Febrina.

Atas masalah tersebut, Sosiolog dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Musni Umar menuturkan, remaja yang seperti itu masuk kategori masyarakat individualistik.

“Remaja itu termasuk orang yang tak peduli orang lain dan hanya mementingkan dirinya, itu tak seusai kultur indonesia. Kemungkinan besar pergaulan atau bahkan keluarganya bermasalah,” ujar Musni saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (16/4).

Menurut Musni, remaja tersebut mengalami dekadensi moral atau kemunduran atau kemerosotan moral. Musni menuturkan perkembangan remaja sekarang melahirkan pragmatisme dan mematikan empati.

“Istilah remaja yang bersikap alay atau berlebihan seharusnya tak dibiarkan, karena makin memperburuk remaja kita. Contohnya, remaja wanita mencurahkan isi hatinya atau masalah keluarganya, nah ini bisa dimanfaatkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Maka tak heran tak sedikit kasus remaja wanita diperkosa, diculik bahkan dibunuh teman facebooknya,” jelas dia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA– Merasa prihatin kasus Dinda, seorang pengguna setia jasa Kereta Rel Listrik (KRL) bernama Diti Darmalisa (32) mengusulkan agar PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) menambah satu gerbong khusus untuk ibu hamil,lanjut usia (lansia) maupun difabel atau kalangan prioritas.

Sumber : https://jilbabbayi.co.id/