Ketahanan Pangan versus Kerawanan Pangan

Ketahanan Pangan versus Kerawanan Pangan

Ketahanan Pangan versus Kerawanan Pangan

 

Ketahanan pangan, secara luas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk memenuhi kecukupan pangan masyarakat dari waktu ke waktu. Kecukupan pangan dalam hal ini mencakup segi kuantitas dan kualitas, baik dari produksi sendiri maupun membeli di pasar. Terwujudnya sistem ketahanan pangan tersebut akan tercermin antara lain dari ketersediaan pangan yang cukup dan terjangkau oleh daya beli masyarakat serta terwujudnya diversifikasi pangan, baik dari sisi produksi maupun konsumsi. Pencapaian ketersediaan pangan harus memperhatikan aspek produksi, pengaturan dan pengelolaan stok atau cadangan pangan, serta penyediaan dan pengadaan pangan yang cukup. Ketahanan pangan harus menjaga mutu dan gizi yang baik untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Mutu dan gizi yang baik dihasilkan dari pangan yang beragam, bergizi, bermutu dan halal untuk dikonsumsi. Mutu pangan yang dikonsumsi akan mempengaruhi kualitas sumberdaya manusia Indonesia.

Kenyataan yang pernah terjadi saat krisis yang lalu bahwa adanya rawan pangan didukung oleh kondisi alam yang tidak menguntungkan produksi bahan pangan dan diperparah lagi dengan adanya kepanikan konsumen akibat isu kekurangan pangan sehingga memicu kenaikan harga bahan pokok. Keadaan tersebut menunjukkan pula bahwa ketergantungan bahan pangan hanya pada satu jenis bahan pangan saja terutama beras, ternyata mengarah pada kelemahan dari sistem ketahan pangan (Darwanto, 2000).

Untuk memperkuat ketahanan pangan maka perlu digalakkan kembali lumbung desa. Lumbung desa berfungsi sebagi tempat penyimpanan pada saat produksi berlebihan (panen raya) dan sebagai penyalur saat paceklik. Keberadaan lumbung desa akan melepaskan ketergantungan petani terhadap pemerintah (Dolog/Bulog). Selain itu peningkatan sarana transportasi seperti jalan penghubung pedesaan diperlukan untuk memudahkan penyaluran serta pengembangan pedesaan. Keduanya sangat penting peranannya dalam mengatasi kerawanan pangan sehingga daerah-daerah yang masih kekurangan dapat terdistribusi dari daerah yang mengalami surplus pangan.

Harga yang rendah merupakan disinsentif bagi petani untuk meningkatkan produksi, sehingga ketersediaan pangan akan menjadi terganggu. Dalam jangka panjang kebijakan pengendalian harga pangan hanya akan membuat negeri ini tergantung pada impor pangan. Dilema yang dihadapi pemerintah saat ini adalah; disatu sisi pemerintah ingin mengendalikan inflasi menjadi single digit, salah satunya dengan menekan harga kebutuhan pokok, terutama pangan. Dilain pihak, pemerintah ingin merevitalisasi pertanian dan meningkatkan taraf hidup petani. Mahalnya harga beras yang terjadi akhir-akhir ini telah melemahkan daya beli masyarakat, bahkan pada kelompok masyarakat tertentu tidak mampu membeli beras, sehingga mengkonsumsi nasi aking atau umbi-umbian. Berikut disajikan perkembangan harga beras medium

Baca Juga  :