Metode Wawancara Dan Penjelasannya

Metode Wawancara Dan Penjelasannya

Metode Wawancara

Metode Wawancara

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya jawab langsung antara pengumpul data maupun peneliti terhadap nara sumber atau sumber data.

Wawancara pada penelitian sampel besar biasanya hanya dilakukan sebagai studi pendahuluan karena tidak mungkin menggunakan wawancara pada 1000 responden, sedangkan pada sampel kecil teknik wawancara dapat diterapkan sebagai teknik pengumpul data

Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan interviewer mengenai aspek-aspek apa yang harus dibahas, juga menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Dengan pedoman demikian interviwer harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat Tanya, sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks actual saat wawancara berlangsung (Patton dalam poerwandari, 1998).

Wawancara terbagi atas wawancara terstruktur dan tidak terstruktur.

a. Wawancara terstruktur artinya peneliti telah mengetahui dengan pasti apa informasi yang ingin digali dari responden sehingga daftar pertanyaannya sudah dibuat secara sistematis. Peneliti juga dapat menggunakan alat bantu tape recorder, kamera photo, dan material lain yang dapat membantu kelancaran wawancara.

b. Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara bebas, yaitu peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan yang akan diajukan secara spesifik, dan hanya memuat poin-poin penting masalah yang ingin digali dari responden.[2]

Kuesioner (Angket)

Kuesioner merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya, kuesioner merupakan metode pengumpulan data lebih efisien bila peneliti tahu dengan pasti variable yag akan diukur dan tahu apa yang diharapkan dari responden. Selain itu kuesioner juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang luas. Kuoesioner dapat berupa pertanyaan/pernyataan tertutup atau terbuka, dapat diberikan kepada responden secara langsung atau dikirim memalui pos atau internet.

Uma sekaran (1992) mengemukakan beberapa prinsip dalam penulisan angket sebagai metode pengumpulan data yaitu prinsip penulisan pengukuran dan penampilan fisik.

Prinsip penulisan angket menyangkut beberapa factor yaitu isi dan tujuan pertanyaan, bahasaa yang digunakan, tipe dan bentuk pertanyaan, pertanyaan yang tidak mendua, tidak menanyakan hal yang sudah lupa, pertanyaan yang tidak mengarahkkan, panajang pertayaan dan urutaan pertanyaan.

a. Isi dan Tujuan Pertanyaan.

Yang dimaksud disisni adalah apakah isi pertanyaan tersebut merupakan bentuk pengukuran atau bukan ? kalau bentuk pengukuran maka dalam membuat pertanyaan harus teliti, setiap pertanyaan harus skala pengukuran dan jumlah itemnya mencukupi untuk mengukur variable yang diteliti.

b. Bahasa yang digunakan

Bahasa yang digunakan dalam penulisan kuesioner harus disesuaikan dengan kemampuan berbahasa responden. Kalau sekiranya responden tidak dapat berbahasa Indonesia, maka angket jangan disusun dengan Bahasa Indonesia. Jadi Bahasa yang digunakan dalam angket harus memperhatikan jenjang pendidikan responden

c. Tipe dan Bentuk Pertanyaan

Tipe pertanyaan dalam angket dapat terbuka atau tertutup dan bentuknya dapat mengunakan kalimat positif atau positif.

Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang mengharapkan responden untuk menuliskan jawabanya berbentuk uraian tentang sesuatu hal. Contoh: bagaimanakah tanggapan anada terhadap iklaniklan di TV saat ini ? sebaliknya pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang menghaarapkan jawaban singkat atau mengharapkan responden untuk memilih salah satu alternative jawaban dari setiap pertanyaan yang telah tersedia. Setiap pertanyaan angket yang mengharapkan jawaban berbentuk data nominal, orinal, interval, dan ratio adalah bentuk pertanyaan tertutup.

d. Pertanyaan tidak mendua
Setiap pertanyaan dalam angket jangan mendua (double-barreled) sehingga menyulitkan respoden untuk memberikan jawaban.

e. Tidak menanyakan yang sudah lupa
Setiap pertanyaan dalam instrument angket, sebaiknya juga tidak menanyakan hal-hal yang sekiranya responden sudah lupa, atau pertanyaan yang memerlukan jawaban dengan berfikir berat.

f. Pertanyaan tidak mengiring
Pertanyaan dalam angke sebaiknya juga tidak mengiring ke jawaban yang baik saja atau yang ke jelek saja.

g. Panjang pertanyaan
Pertanyaan dalam nagket sebaiknya tidak terlalu panjang, sehingga akan membuat jenuh responden dalam mengisi. Bila jumlah variable banyak, sehingga memerlukan intrumen yang banyak, maka intrumen tersebut dibuat bervariasi dalam penampilan, model skala pengukuran yang digunakan, dan cara mengisinya.

h. Urutan pertanyaan

Urutan pertanyaan dalam angket, dimulai dari yang umum menuju hal yang spesifik atau dari mudah menuju hal yang lebih sulit, atau bahkan diacak. Hal ini perlu dipertimbangkan karena secara psikhologis akan mempengaruhi semangat responden untuk menjawab. Kalau pada awalnyaa sudah diberi pertanyaan yang sulit, maka responden akan patah semangat untuk mengisi angket yang telah mereka terima.

i. Prinsip pengukuran

Angket yang diberikan kepada responden adalah merupakan instrument penelitian, yang digunkan untuk mengukur variable yangk akan diteliti. Oleh karena itu intrumen angket tersebut harus dapat digunakan untuk mendapatkan data yang valid dan reliabel tentang variable yang diukur. Supaya diperoleh data penelitian yang valid dan reliabel, maka sebelum intrumen tersebut diberikan pada responden, perlu diuji validitas dan realibilitasnya terlebih dulu.

j. Penampilan Fisik Angket

Penampilan fisik angket sebagai alat pengumpul data akan mempengaruhi respon atau keseriusan responden dalam mengisi angket. Angket yang dibuat dikertas buram, akan mendapat respon yang kurang menarik dari responden, bila dibandingkan angket yang dicetak dalam kertas yang bagus dan berwarna. Akan tetapi jiak aangket yang dicetak dengan kertas yang bagus dan berwarna akan menajdi lebih mahal.

 

Sumber : https://www.ilmubahasainggris.com/